Tak.. tak.. tak
Terdengar suara lemparan batu ke arah tembok oleh seorang anak SMA, sebut sajah Daka “gila akhir-akhir ini nilai gue Jeblok abis,” ucapnya sambil terus melempar batu kearah tembok, “kenapa nilai gue jeblok mulu padahal gue rajin belajar,” hening sesaat ketika angin bertiup dingin ke arahnya “iya sich gue kadang-kadang belajarnya” ucapnya lagi melanjutkan dan terduduk sambil menyenderkan tubuh.
Tak lama Galang yang membawa sebotol minuman “ini buwat kamu” ucapnya pendek, bagi daka Galang adalah anak yang sangat aneh sangat misterius, Galang tak pernah bercerita tentang hidupnya atau bagaimanapun ia “kenapa kamu melamun?” tanyanya dan Daka hanya bisa menggelengkan kepala yang membuwat Daka bingung kenapa Galang begitu cerdas sampai ia sudah bisa mengantongi 1 beasiswa ke Prancis ketika ia lulus nanti .
“gak ada-apa” ucap Daka sambil memegang batu kecil dan memainkannya .
“bagaimana dengan nilaimu ?” dengan santai Galang berbicara
“hmm, akhir-akhir ini nilaiku menurun sekali” ucap Daka tertunduk lemas
“biar aku bantu bagaimana ?” Galang dengan semangat menyentuh pundak Daka .
“baiklah, bagaimana kalau di rumah kamu ajah, udah sering di rumah aku bosen !”
Daka berusaha memancing Galang , dari ratusan siswa dan siswi sekolahnya tak ada yang mengetahui rumah Galang dimana seperti apa, setiap bagi Rapot ayah Galang yang selalu mengambil rapotnya, Galang tersenyum “kamu gak bakal mau ke rumah aku dan kamu pasti akan kaget” ucap Galang selalu sajah itu yang di dengar daka ketika ia ingin sekali bermain ke rumah sahabat dekatnya itu .
Pada akhirnya daka harus luluh kepada Galang karena Galang pastiakan mencari sejuta alasan yang bagi Daka susah untuk di cerna apalagi dengan seribu macam bahasa tubuh yang dingin yang takan bisa Daka lawan sedikitpun.
“eh, nak Galang !! Mau belajar bersama ya hari ini !” sapa ibu.Daka nyonya Imelda.
“iya tante, kebetulan begitu” ucap Galang membenarkan kacamatanya .
“ayo naik sajah ke kamar Daka, disana Daka sedang tiduran”
Dengan dinginnya Galang berjalan menuju kamar Daka di lantai tiga, dia selalu sajah sakit ketika melihat foto-foto kelurga Daka yang bahagia, dia memerhatikan setiap lukisan dan foto keluarga yang ada di sekitar tangga “apakah orang tua gue ! gak sayang sama gue sampe mereka ngebuang gue gitu ajah” desah Galang dalam hati sambil mengetuk pintu kamar Daka .
“Dak, ini aku Galang ” ucap Galang pendek dengan nada suara yang tak lazim.
“lang, napa suara kamu jadi aneh kamu sakit ya ?” tanya Daka tak lama sambil membuka pintu .
“eerrrrhhhmmm.. ga kok Cuma haus dikit pas di jalan” ucap Galang pendek dan memasuki kamar Daka yang bak kamar pangeran yang sangat Luas .
“eh, tahu gak . tadi malem si Violin kecengan loe tuh yang cewe cantik hahaha, ksini katanya mau ikut belajar bareng tunggu bentar ya hahaha” sindir Daka karena daka tahu dari semester 1 Daka dan Galang naik kelas 11 Galang selalu mencoba mendekati Violin .
“HAH, apa ?” ucap Galang denganb sedikit muka memerah.
“asyikkan kamu bisa pulang bareng hahahaha”
Daka mulai lagi menyindir Galang , Galang pun hanya diam seribu satu bahasa, tak lama violin datang kerumah Daka dengan memakai baju Ungu yang manis, dan alhasil Galang pun terdiam kembali tak bisa berucap “kamu kenapa ?” tanya Violin mendekat dan menyentuh pundak Galang, Galang makin tak bisa berkutik lagi dan dia hanya bis aberucap “ahehhehehe, gak kok gak apa-apa yuk mulai belajarnya” dengan Nakal Daka tersenyum kepada Galang yang mati GAYA.
=oOo=
Pulang dari rumah Daka, Galang dan Violin berjalan bersama dengan usil Daka berteriak dari pagar rumah “KALAU JADIAN LAPORAN YA” ucapnya usil dan segera berlari memasuki rumah karena takut akan di timpuki oleh sandal dengan kejamnya oleh Galang , Violin tersenyum melihat Galang yang tersenyum dengan tatapan manis kepadanya .
“kamu pulang kemana ?” tanya Violin .
“aaaa..aaa..aaaa, aku pulang kepanti asuhan” ucap Galang ternganga.
“kamu tinggal disana ?”
“ya begitulah, aku duluan ya makasih udah mau belajar bareng aku sama Daka”
“tentu..” hening seketika “tunggu lang, aku punya sesuatu buwat kamu” ucap Violin malu-malu.
“apa ?” tanya Galang pendek.
“ini ada pulpen aku kasih nama kamu, aku dari dlu pengen nagsih ini tapi aku malu”
“terimakasih violin !”ucap Galang
Galang terus memandangi pulpen yang di berikan Violin, sangat cantik diukir dengan penuh arsistik yang indah, walau sejujurnya dia selalu berpikir bahwa dirinya tak pantas unutk mendapatkannya .
=oOo=
Sesampainya di rumah Galang tersenyum dan sedikit melirik ke arah Sofa tua, terduduk sejenak dan berkata “apakah didunia tak ada yang mengetahui siapa diriku sebenarnya ?” tanyanya “kenapa manusia di dunia ini terlalu bodoh untuk mengakui diriku yang sebenarnya” ucap Gilang menyalakan televisi dan melempar Pulpen manis yang diberi oleh Violin .
Dia tersenyum lebar dan tertawa sambil melihat botol-botol yang berisi potongan tubuh manusia yang berjejer rapi di sebelah rak TV miliknya “ibu terimakasih telah melahirkan aku ! walau kau harus mati dengan tragis tapi, aku menyukai potongan tubuhmu itu karena dapat di beli dengan harga mahal..” ucap Galang sambil mengetuk-ngetukan Jarinya kearah toples yang berisi kepala seorang wanita .
Keesokan harinya Daka bermain di lapang dan melemparkan batu ke arah tembok Tak..tak..tak..
Hari ini Daka bukan karena nilainya jelek malah nilainya sangat sempurna karena di bantu Galang tempo hari, tapi hari ini Daka bingung kepada Galang, karena makin hari sifatnya makin aneh dan sepertinya Daka tak seperti mengenalinya ? “si Galang sedih kali ye ! gara-gara di Tolak kali pas hari minggu kemarin sama si Violin” pikirnya dalam hati senyelir angin berhembus kembali kali ni anginnya berbeda biasanya dingin tapi kali ini sangat hangat bagi Daka .
“hay..” sapa seorang wanita .
“Violin ?” Daka bertanya-tanya sendiri .
“kamu sendirian disini kemana Galang ?”tanya Violin bingung .
“emang ada apa ?” Daka bertanya ingin tahu .
“ehhm, tadi waktu di kantin aku berusaha deketin dia, kamu tahukan aku suka sama dia, tapi tadi dia kasar banget” ucap Violin sambil menitikan air mata keatas kotak merah .
“sudahlah Violin mungkin dia sedang tak ingin di ganggu .”
Dari jauh Galang melihat Violin menangis “mungkin aku terlalu kasar,” pikir Galang sambil tersenyum getir “maafkan aku, tapi kamu tak layak mendapakan pembunuh seperti aku” ucap Galang dan pergi .
Daka terus berpikir ada apa dengan dirinya itu ? sedikit demi sedikit ide gila dalam kepalanya mulai muncul “Bagaimana kalau aku melakukan penyelidikan saja, pas pulang sekolah aku lihat dia akan pergi kemana ?” ucap Daka tersenyum, ternyata di belakang Daka ada Violin yang mendengarkan yang entah sejak kapan ia ada di situ “jangan sendirian aku juga mau” ucap Violin bersemangat.
“tapi ini berbahaya” ucap daka
“UUU,kan cuman ikutin ajah gak repotkan” ucap Violin sambil menjitak kepala Daka
“oke deh, tapi aku gak tanggung jawab loh” ucapnya lagi
“hahahah, ia deh abang !”
=oOo=
Daka berusaha sok asyik kepada Galang, yang sedari tadi terus membaca buku IPA bagian tubuh manusia dan pembedahan pada bagian organ penting, Daka agak ngeri sich kalau liat Galang baca buku itu, apalagi dia nyatet yang bagi dia penting banget soal jutaan bagian tubuh manusia .
“WOY DOKTER BEDAH..” ucap daka mengagetkan Galang yang nyatanya berhasil
“eh, ayam ayam, dasar Kamu ngagetin ajah bisanya” ucapnya sambil latah dan membenarkan kacamatanya
“serius banget sich, huh, pantes ajah dapet beasiswa jurusan kedokteran di prancis .” sindir Daka lagi
“sirik ajah kamu hahah” ucapnya dingin
“kerumah kamu yuk, aku pengen kabur dari rumah aku bosen” ucap Daka sambil tersenyum lebar .
“hmmm.. gak bisa deh maaf, aku mau ada acara!”
“please LANG kali ini ajah” ucap Daka dengan manja tapi Galang dengan tubuhnya yang dingin tetap tak mau menjawab, “kalau gak jawab berarti ya” ucap Daka spontan
“eh, gak bisa gitu” ucap galang kaget dan keringat dinginnya mulai mengalir.
“nah, itu jug ajawaban iya, jadi ntar aku mau kerumah kamu akhh, sama Violin” ucap Daka tersenyum.
“besok ajah ya !” ucap Galang dengan dingin tanpa ekspresi sedikitpun.
“ya udah deh,”
Dakapun tersenyum dan meninggalkannya sendiri “waktu yang bagus” ucap Galang, dari dulu Galang ingin sekali mengambil bola mata Daka yang indah itu dan menjualnya seharga 1jutadolar dan bisa membuwatnya kaya seumur hidup, mungkin kalian takan tahu kemana potongan tubuh ibunda Galang, dia juga menjualnya ke Eropa dan berbagai potongan tubuh lainnya, bahkan ayahnya sendiri sekarang telah menjadi Korban, beberapa hari yang lalu, Ginjal, Hati, jantung telah ia jual ke singapure dan kepalanya ia jadikan koleksi, beberapa orang yang pernah dekat dengannya juga telah menjadi korban hanya saja pemngambilan organnya lebih kecil hanya bagian Mata dan kulit.
=oOo=
Hari ini Daka dan Violin mengikuti Galang pergi kemana, sampai akhirnya sampailah di sebuah bangunan tua, semcam apartemen yang lumayan megah, tapi sudah agak rusak lusuh, “HAH, dia tinggal disini ?” tanya Violin kepada Daka .
“mungkin ! kita tanyain ajah yuks”ucap daka kepada Violin
“okey kita tanyain..” ucap Violin dengan hati-hati
Tak lama mereka bertanya, tak ada satupun yang mengenali Galang, “emang bener ibu gak tahu ?” tanya Violin agak keheranan .
“kalau tidak salah dia penghuni baru di sini, baru beberapa bulan, anaknya juga gak ketutup gitu, kalau ketemu agak ngeri sich soalnya suka bawa toples terus kadang ada bercak darahnya gitu aduh, ibumah takut pisan..” ucap salah satu penghuni apartemen itu sambil berbincang dengan ibu-ibu lain.
“serius bu, ibu gak bohong” tambah Daka dengan heran
“bener de, saya juga gitu, anak saya waktu itu jatuh di depan dia, saya ngedeket rasanya hawanya dingin banget de, jadi ibu-ibu disini gak ada yang berani deketin dia de,”
Merasa telah puas akhirnya Daka dan Violin pergi tapi satu lemparan kerikil mengenai kepalanya TAK.. “aww,,” ucap Daka sambil melirik kebelakang “Galang” ucap Violin dan Daka pendek, dengan muka mengcemkan dia mendekat “aku sudah bilang kunjungan kerumahku besok karena aku belum mempersiapkan alat-alat untuk operasi” ucapnya dan menyemprotkan asap.
Tak lama Daka tersadar dia ada di ruangan gelap dengan Violin yang terus meronta-ronta diatas kursi kedua tangannya terikat dan mulutnya di sekat oleh selotip Ban hitam, dia berusaha untuk menjilati selotip itu agar dapat terlepas, “galang lepasin GUE” teriak Daka seketika ketika selotip yang menempel di lidahnya terlepas “Apa salah gue sama loe ampe loe jadi kayak gini” teriaknya lagi berusaha melepaskan diri .
“hha, ternyata kamu masih ingat bagaimana cara melepaskan selotip dengan air liur” ucap Galang menyindir Daka mendekati Daka menjambak rambutnya .
“lepasin gue..” ucap Daka dengan frontal.
“cuih, gue mau jual mata indah loe, puas loe” ucap galang dingin. “dan kamu Violin akan aku buwat kamu menjadi awet dan menjadi milik aku selamanya hahaha” ucapnya sambi terus mendekati Violin.
Galang membuka ikatan selotin di bibir Violin dengan kasar “aku sayang sama kamu lang tapi kenapa kamu kayak gini !” ucap Violin dan menitikan air mata “heh, sayang ! rasa sayang itu musti hancur ! rasa sayang itu GILA apalagi cinta !” ucap Galang sambil berlalu dan mendekatkan diri kearah jendela .
“gimana perasaan orang tua Loe tahu Loe kayak gini” ucap Daka sambil terus menggoyangkan tubuhnya berusaha untuk terlepas dari ikatan tali yang melilit.
“loe pengen tahu sahabatku.” Ucap Galang menyalakan saklar lampu ruang tengahnya.
Daka tak tahu harus bagaimana dia sangat kaget bahkan Violin berteriak Histeris “jangan berteriak jika kamu tak ingin bernasib baik seperti mereka, tetanggaku yang dulu dan beberapa sahabatku yang lama bahkan seluruh keluargaku..” ucap Galang dan tersenyum manja ke arah Violin, mata Violin yang bulat tak dapat memungkiri ketakutannya .
“sejujurnya aku gak mau untuk membunuh kalian, tapi ini adalah masalah Hobby dan bisnis yang aku sukai dan tak dapat di ganggu gugat aku sangat suka, maaf sajah jika ini menyakitkan, aku sudah menganggapmu saudara tapi rasa benci kepadamu lebih besar Daka, kenapa loe lahir di keluarga yang kayak dan loe Violin sejujurnya aku sangat mencitai kamu tapi rasa Perih tahu kamu dan Daka adalah sepasang sepupu membuwatku berpikir kembali” ucap Galang dan terduduk di belakang mereka berdua .
“kalau loe, gak suka sama gue, jangan gini caranya please Lang. Gue belum siap ninggalin nyokap gue dan ade-ade gue ! apalagi Selin cewe gue.” Ucap Daka berusaha memelas “loe, gak tahu ibu gue sendiri udah nganggap loe anak tapi loenya gini !” tambahnya lagi .
“berarti nyokap loe koban selanjutnya, tinggal nunggu waktu” ucap Galang .
“galang, aku mohon jangan kayak gini aku mohon lang !”
“hahaha, maaf sayang tapi sudah terlambat”
SRRREEETTTT... suara pisau menancap kearah perut Violin dengan sangat keras Violin tak bisa melawan karena serangannya sangat mendadak, Daka yang melihat sangat kesal dan ia mencoba berdiri menendang Galang yang terlihat sangat antusias untuk menghancurkan Violin “Sialan ..” ucap Galang pendek dan membersihkan darah yang bercecer di bibirnya “bertahanlah Violin aku mohon. Kamu gak boleh mati kayak gini” ucap Daka sambil melepaskan ikatan yang ada di tubuh Violin .
“Lang loe boleh ambil semua yang ada dalam diri gue, tapi gue mohon selametin Violin” ucap Daka memelas sekali lagi.
“hha, mungkin..” dan SRRREEETTT, satu tancapan lagi mengenai dada Daka “mungkin jantungmu sudah rusak jadi, takan bisa di jual hahaha..” namun ketika ia melihat Violin ia serasa tak tega .
Pada akhirnya Violin dibawanya kerumah sakit, namun tubuh Daka tetap ia pakai “seperti janji gue ke Loe, hanya diri Loe dan bukan Violin.” Ucap Galang kepada tubuh Daka yang sudah tak berisi dia menaruhnya dalam koper dan melemparkannya ke arah rumah Daka “aku yakin Violin takan mengingatmu karena aku telah membuwatnya amnesia” bisiknya dalam hati dan tersenyum puas, meninggalkan Jakarta dan pergi.
=oOo=
Tak..tak..tak..
Terdengar suara lemparan batu ke arah tembok oleh seorang anak SMA, yang sedang putus asa karena nilainya yang jauh di bawah rata-rata dengan segera Galang membeli minuman dan membawanya kepada anak itu dengan satu senyuman pasti KORBAN SELANJUTNYA .
“ini buwat kamu” ucap Galang kepada anak itu “kenapa kamu melamun” tanyanya serius.
“gak ada apa-apa !” ucap anak itu dingin “akhir-akhir ini nilai aku jeblok mulu”
“gimana kalau kita belajar bareng?” ucap anak itu .
“boleh.”
“dirumah kamu ya karena dirumahku udah sering” ucapnya lagi dengan menatap dalam
“baiklah.” Ucapnya pendek . akhirnya Galang dan anak itu pergi meninggalkan segelintir angin dingin dan ketakutan.
“ini semua takan berakhir akan terus berlanjut dan terus berlanjut, sampai akhirnya kau akan mati, tapi aku takan mati karena aku akan membunuh kematian itu, untuk satu kepastian kepuasan, namun kali ini akan aku perkecil dan lebih pasti .” ucap Galang tersenyum lebar dan pergi .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar